RSS

Pengukuran Situasi Koordinat

BAB I
PENDAHULUAN


 Latar Belakang
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi untuk menentukan posisi relative atau absolute titik-titik pada permukaan tanah dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relative suatu daerah.
Ilmu ukur tanah adalah bagian rendah dari ilmu Geodesi, yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari ukuran dan bentuk bumi dan menyajikannya dalam bentuk tertentu. Ilmu Geodesi ini berguna bagi pekerjaan perencanaan yang membutuhkan data-data koordinat dan ketinggian titik lapangan
Berdasarkan ketelitian pengukurannya, ilmu Geodesi terbagi atas dua macam, yaitu :

 Geodetic Surveying, yaitu suatu survey yang memperhitungkan kelengkungan bumi atau kondisi sebenarnya. Geodetic Surveying ini digunakan dalam pengukuran daerah yang luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang lengkung (bola/ellipsoid).

 Plane Surveying, yaitu suatu survey yang mengabaikan kelengkungan bumi dan mengasumsikan bumi adalah bidang datar. Plane Surveying ini digunakan untuk pengukuran daerah yang tidak luas dengan menggunakan bidang hitung yaitu bidang datar.

Dalam praktikum ini kita memakai Plane Surveying (Ilmu Ukur Tanah). Ilmu Ukur tanah dianggap sebagai disiplin ilmu, teknik dan seni yang meliputi semua metoda untuk pengumpulan dan pemrosesan informasi tentang permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi yang menganggap bumi sebagai bidang datar, sehingga dapat ditentukan posisi titik-titik di permukaan bumi. Dari titik yang telah didapatkan tersebut dapat disajikan dalam bentuk peta.
Dalam praktikum Ilmu Ukur Tanah ini mahasiswa akan berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan survey, dengan tujuan agar Ilmu Ukur Tanah yang didapat dibangku kuliah dapat diterapkan di lapangan, dengan demikian diharapkan mahasiswa dapat memahami dengan baik aspek diatas.
Dengan praktikum ini diharapkan dapat melatih mahasiswa melakukan pemetaan situasi teritris. Hal ini ditempuh mengingat bahwa peta situasi pada umumnya diperlukan untuk berbagai keperluan perencanaan teknis atau keperluan-keperluan lainnya yang menggunakan peta sebagai acuan.

 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah:
 1.Agar mahasiswa dapat mengukur situasi dengan alat sederhana
 2.Agar mahasiswa dapat memproses data yang diambil dari pengukuran langsung di lapangan untuk mencari suatu nilai yang belum diketahui
 3.Agar mahasiswa dapat menggambarkan dan membuat laporan pengukuran hasil pengukuran
Tujuan dari praktikum ini adalah:
 1.Untuk menerapkan langsung dilapangan teori yang telah diberikan oleh dosen pada saat perkuliahan
 2.Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pengukuran menggunakan alat ukur waterpass
 3.Untuk melatih kinerja dalam satu kelompok agar efisien dalam melakukan pengukuran di lapangan
 4.Untuk melatih kesiapan mental dan fisik mahasiswa dalam melakukan pengukuran di berbagai medan di lapangan pada saat memasuki dunia kerja yang sesungguhnya nanti
 5.Untuk mengembangkan pola pikir mahasiswa dalam menghadapi berbagai masalah dan mencari solusinya pada saat pengukuran di lapangan

 Volume Pekerjaan
 1.Pengukuran dari titik ke titik
 2.Pengukuran dan perhitungan koordinat polar
 3.Penggambaran peta situasi

 Pelaksanaan Praktikum
 1.Studi Literature
Dalam penulisan laporan ini diperlukan beberapa literature sebagai dasar acuan yang dapat digunakan untuk kesempurnaan laporan ini. Literature yang digunakan bersumber dari buku-buku yang diambil baik dari perpustakaan maupun buku dari luar perpustakaan yang berkaitan dengan Ilmu Ukur Tanah atau praktikum yang dilaksanakan.

 2.Studi Laboratorium
Pemprosesan data hasil lapangan dilakukan secara manual di laboratorium Teknik Geodesi Politeknik Negeri Banjarmasin, yang dibantu oleh dosen pembimbing, dan pemprosesan data selanjutnya juga dilaksanakan dirumah.

 3.Studi Lapangan
Praktikum dilaksanakan pada semester I dengan pembuatan laporan berdasarkan hasil dari praktik langsung di lapangan yang berlokasi di Politeknik Negeri Banjarmasin, yang dilaksanakan dari tanggal 11 Desember 2010.

 Peralatan dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Kompas
2. Statif rambu
3. Pita ukur
4. Jalon
5. Kapur tulis.
6. Papan data
7. Pensil mekanik dan kertas
8. Alat hitung/kalkulator
9. Sketsa peta situasi Poliban

 Keselamatan Kerja
Sebelum memulai dan melaksanakan praktikum ilmu ukur tanah I, mahasiswa melakukan kegiatan sebagai berikut :
 1.Berdoa sebelum memulai kegiatan
 2.Memakai pakaian praktek
 3.Pergunakan peralatan harus sesuai dengan fungsi dan prosedur kerja operasional
 4.Perhatikan arahan dari dosen pembimbing
 5.Bekerjalah secara hati-hati dan sabar

BAB II
METODOLOGI
Teori
  Pengukuran situasi ialah serangkaian pengukuran suatu daerah dengan cara menentukan objek-objek penting berdasarkan unsur sudut dan jarak dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat mewakili atau menggambarkan daerah tersebut dan seisinya secara jelas mungkn dengan skala tertentu.
  Prinsip pengukuran dalam hal ini adalah dengan sistem grafis. Jenis pengukuran menggunakan alat sederhana seperti : kompas, jalon, pita ukur, statif rambu atau tripod, kapur tulis, papan data dan alat tulis. Umumnya dilakukan untuk pemetaan daerah-daerah kecil. Adapun cara yang dilakukan adalah dengan metode koordinat polar
  Sistem koordinat polar dinyatakan dengan unsur sudut (α) yang diukur dari sumbu y positif (utara) searah putaran jarum jam dan unsur jarak (d) yang diukur diantara dua titik yang bersangkutan. Keuntungan cara dengan koordinat polar ialah, pada satu kali kedudukan alat pengukuran sudut dapat ditentukan atau diukur banyak titik, keuntungn lainnya dengan cara ini ialah dimungkinkan pengukuran pada lapangan yang tidak datar.
 Prinsip penentuan letak titik-titik dengan koordinat polar ialah :
 1.Dimulai dari arah utara geografis
 2.Diputar dengan cara jalannya jarum jam
 3.Diakhri pada arah terhadap titik target yang bersangkutan


Peralatan Survei
Alat-alat yang dipakai saat melakukan pengukuran pemetaan situasi dengan cara koordinat polar ini, yaitu :
 Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah di lapangan. Oreintasinya mengikuti Utara magnet bumi atau Selatan magnet bumi. Kompas digunakan sebagai alat pengukur sudut di lapangan dengan mengacu kepada salah satu magnet bumi. Bacaan sudut pada kompas intervalnya 1° - 2°.


 Jalon
Jalon adalah tiang atau tongkat yang akan ditegakkan pada kedua ujung jarak yang diukur. Jalon terbuat dari kayu, pipa besi yang merupakan tongkat berpenampang bulat. Agar kelihatan terang dan dapat dilihat dari jauh maka diberi warna merah putih menyolok. Selang seling merah putih sekitar 25 sentimeter – 50 sentimeter.

 Pita Ukur
Pita ukur digunakan untuk mengukur jarak di lapangan. Pita ukur ada yang terbuat dari kain linen berlapis plastik atau tidak. Pita ukur tersedia dalam ukuran panjang 10 meter, 15 meter, 30 meter sampai 50 meter.
 Rambu Ukur
Alat ini berbentuk mistar ukur yang besar, mistar ini mempunyai panjang 3, 4 bahkan ada yang 5 meter. Skala rambu ini dibuat dalam cm, tiap-tiap blok merah, putih atau hitam menyatakan 1 cm, setiap 5 blok tersebut berbentuk huruf E yang menyatakan 5 cm, tiap 2 buah E menyatakan 1 dm. Tiap-tiap meter diberi warna yang berlainan, merah-putih, hitam-putih, dll. Kesemuanya ini dimaksudkan agar memudahkan dalam pembacaan rambu.


Sumber kesalahan dalam pengukuran dikelompokkan atas tiga jenis kesalahan, yaitu :
 Kesalahan alami
Kesalahan alami yang sering terjadi pada pengukuran jarak adalah pengaruh sinar matahari dan kelengkungan bumi.
 Pengaruh sinar matahari, pengaruhnya menyebabkan pita ukur mengalami pemuaian da penyusutan akibat naik dan turunnya suhu. Hal ini diatasi dengan menghindari pengukuran pada waktu pergantian suhu ekstrim. Untuk pita ukur jenis tertentu sudah dilengkapi koreksi suhu oleh pabriknya.
 Pengaruh lengkung bumi, pengaruhnya menyebabkan jarak yang terukur adalah jarak miring. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan nivo pada jalon.

 Kesalahan oleh pengukur
 Kesalahan pembacaan pada titik akhir
 Kekeliruan pada pencatatan jarak
 Pengukuran tidak pada garis lurus
 Pengaruh gravitasi bumi pada pita ukur yang dibentangkan maksimal,
hingga lentur.

 Kesalahan yang diperkenankan
Besarnya kesalahan yang diperkenankan untuk setiap lokasi yang berbeda-beda, yaitu:
 Lapangan datar
S1 = 0,008√(D+0,0003D+0,05)
 Lapangan berlereng
S2 = 0.010√(D+0,0004D+0,05)
 Lapangan curam
S3 = 0,012√(D+0,0005D+0,05)

Keterangan :
S1 : kesalahan yang diperkenankan pada lapangan datar (m)
S2 : kesalahan yang diperkenankan pada lapangan berlereng (m)
S3 : kesalahan yang diperkenankan pada lapangan curam (m)
D : panjang pengukuran (m)
Langkah kerja pengukuran
 Tahap awal lakukan orientasi dan buatlah sketsa dan lapangan sehingga dapat dilakukuan perencanaan titik-titik pengukuran
 Tentukan titik patoknya misalnya titik P, selanjutnya tentukan titik detail/target yang akan diukur
 Tempatkan kompas mendatar diatas titik P, sampai kedudukan kompas benar-benar mendatar dan sejajar, kemudian arah kompas ke arah utara
 Tempatkan jalon pada titik-titik yang akan dibidik. Arahkan visir kompas ke titik A dan bacalah skala lingkaran sudut yang ditunjukan oleh jarum kompas, sehingga didapat (α)Po-A. Ukur jarak dari titik Po ke A dangan pita ukur sehingga diperoleh (d)Po-A
 Tempatkan jalon pada titik-titik yang akan dibidik. Arahkan visir kompas ke titik B dan bacalah skala lingkaran sudut yang ditunjukan oleh jarum kompas, sehingga didapat (α)Po-B. Ukur jarak dari titik Po ke B dangan pita ukur sehingga diperoleh (d)Po-B
 Tempatkan jalon pada titik-titik yang akan dibidik. Arahkan visir kompas kompas ke titik C dengn memutar kompas searah dengan jarum jam dan bacalah skala lingkaran sudut yang ditunjukan oleh jarum kompas, sehingga didapat (α)Po-C. Ukur jarak dari titik Po ke c dangan pita ukur sehingga diperoleh (d)Po-C
 Tempatkan jalon pada titik-titik yang akan dibidik. Arahkan visir kompas ke titik D dan bacalah skala lingkaran sudut yang ditunjukan oleh jarum kompas, sehingga didapat (α)Po-D. Ukur jarak dari titik Po ke D dengan pita ukur sehingga diperoleh (d)Po-D
 Hasil dari pengukuran dicatat kemudian lakukan penggambaran peta dengan metode grafis pada kertas milimeter block
 Membuat laporan dari hasil praktikum Ilmu Ukur Tanah I, yang akan diserahkan kepada dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Ukur Tanah sebagai tugas besar mahasiswa Teknik Geodesi Semester 1.



 Perhitungan Data
Diketahui:
 1. Po-A = 15° dan jarak 13,57 m
 2. Po-B = 31° dan jarak 33,61 m
 3. Po-C = 262° dan jarak 8,83 m
 4. Po-D = 235° dan jarak 26,97 m
 Koordinat Po = (100,100)
Ditanya : 1. koordinat Po-A X dan Y ?
  2. koordinat Po-B X dan Y ?
  3. koordinat Po-C X dan Y ?
  4. koordinat Po-D X dan Y ?
Penyelesaian :
 ∆X PO-A = dA x sin αA
  = 13,57 x sin 15°
  = 3,522 m
 ∆Y PO-A = dA x cos αA
  = 13,57 x cos 15°
  = 13,107 m
 X PO-A = XPO + ∆X PO-A
  = 100 + 3,522
  = 103,522 m
 Y PO-A = YPO + ∆Y PO-A
  = 100 + 13,107
  = 113,107 m
 ∆X PO-B = dB x sin αB
  = 33,61 x sin 31°
  = 17,310 m
 ∆Y PO-B = dB x cos αB
  = 33,61 x cos 31°
  = 28,809 m
 X PO-B = XPO + ∆X PO-B
  = 100 + 17,310
  = 117,310 m
 Y PO-B = YPO + ∆Y PO-B
  = 100 + 28,809
  = 128,809 m

 ∆X PO-C = dC x sin αC
  = 8,83 x sin 262°
  = -8,744 m
 ∆Y PO-C = dC x cos αC
  = 8.83 x cos 262°
  = -1,228 m
 X PO-C = XPO + ∆X PO-C
  = 100 + (-8,744)
  = 91,256 m
 Y PO-C = YPO + ∆Y PO-C
  = 100 + (-1,228)
  = 98,772 m

 ∆X PO-D = dD x sin αD
  = 26,97 x sin 235°
  = -22,092 m

 ∆Y PO-D = dD x cos αD
  = 26,97 x cos 235°
  = -15,469 m
 X PO-D = XPO + ∆X PO-D
  = 100 + (-22,092)
  = 77,908 m
 Y PO-D = YPO + ∆Y PO-D
  = 100 + (-15,469)
  = 84,531 m

Jadi, titik X dan Y :
Titik Target X Y
Po-A 103,522 m 113,107 m
Po-B 117,310 m 128,809 m
Po-C 91,256 m 98,772 m
Po-D 77,908 m 84,531 m
 Penggambaran
 Penggambaran yang dilakuan oleh kelompok 2 (dua) dengan menggunakan metode grafis yaitu langsung melakukan penggambaran dengan mengetahui hasil pengamatan di lapangan dan diskalakan dengan menggunakan alat tulis seperti ; busur derajat, penggaris, pensil, penghapus karet, kertas millimeter block dan rapido.



BAB III
PENUTUP

 Simpulan
 Alat ukur yang dapat digunakan pada pengukuran ini adalah kompas.
 Metode yang digunakan untuk menggambarkan peta situasi adalah alat ukur berada di luar kedua titik.
 Dalam pengukuran ini menghitung jarak menggunakan cara dengan mengukur jarak secara langsung dengan menggunakan pita ukur.
 Dengan metode pengukuran ini dapat menghasilkan gambar situasional
 Dalam pengukuran ini diperoleh peta dan eksisting lapangan yang dapat digunakan sebagai pekerjaan perencanaan dan stake out
 Tinggi Garis Bidik yang digunakan dalam pengukuran ini adalah tinggi alat

 Saran
 Persyaratan centering alat harus benar-benar harus terpenuhi
 Usahakan rambu dalam keadaan tegak agar mendapatkan hasil yang lebih akurat
 Ketika menarik pita ukur harus benar-benar kencang
 Ketika mengukur tinggi alat usahakan pita ukur tegak dan kencang, dan ukur setinggi alat yang batasnya berada di tengah teropong
 Usahakan hanya satu orang yang membaca rambu ukur dalam 1 slag agar bacaan tidak berubah-ubah
 Untuk mendapatkan perhitungan yang lebih akurat, maka dirikan alat di beberapa titik
 Kerjasama yang baik dalam team sangat diperlukan untuk menghemat waktu dalam pelaksanaan pengukuran
 Dalam pemilihan waktu pelaksanaan usahakan cuaca yang cerah
DAFTAR PUSTAKA

Soetomo Wongsotjitro.1992. Ilmu Ukur Tanah. Kanisius, Jogyakarta. Davis. 1965. Surveying. John Willey & Sons. New York.
Mulyono, Tedjo, M. Mukhlisin, dan Setia Utomo. 1996. Petunjuk Praktikum Ukur Tanah 1. Bandung : Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://sundana.wordpress.com/2008/12/09/penuntun-praktikum-ilmu-ukur-tanah/








Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hakekat Kewirausahaan

Hakekat Kewirausahaan

Anda tentu sering mendengar tentang kata “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun “Wirausahawan” Apakah yang dimaksud dengan “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun “Wirausahawan” tersebut? Dan apakah beda ketiga kata tersebut?

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber dayasumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Intinya, seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya.

Orang-orang yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis, sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam melakukan sesuatu yang baru.

Beberapa konsep kewirausahaan seolah identik dengan kemampuan para wirausahawan dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak/ciri wirausahawan semata, karena sifat-sifat wirausahawan pun dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja, 1980).

Wirausahawan adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997) Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana, 2001).

Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:
  • Pengembangan teknologi baru (developing new technology)
  • Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
  • Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services)
  • Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources)

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sifat inipun sebenarnya dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausahawan. Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Dengan demikian, ada enam hakekat pentingnya Kewirausahaan, yaitu:
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
  • Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996)
  • Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Ditulis oleh Izzati Amperaningrum, SE, MM & Dr. Zuhad Ichyaudin, MBA.

Semoga Bermanfaat..


Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengembalian Kondisi

DIVISI I
UMUM
SEKSI 1.1
RINGKASAN PEKERJAAN
1.1.1 CAKUPAN PEKERJAAN
  1. 1) Cakupan pekerjaan dari Kontrak ini meliputi pelaksanaan pekerjaan jalan dan/atau jembatan, pada ruas jalan dan/atau jembatan tertentu dalam sistem jalan negara dan/atau propinsi. Pekerjaan-pekerjaan yang dicakup di dalam Spesifikasi ini dibagi tiga kelompok, Pekerjaan “Utama”, Pekerjaan “Pengembalian Kondisi dan Minor”, dan Pekerjaan “Pemeliharaaan Rutin”.
  2. 2) Kegiatan Pemeliharaan Rutin harus dimulai segera setelah periode Kontrak dimulai dan dimaksudkan untuk mencegah setiap kerusakan lebih lanjut pada jalan dan/atau jembatan minor. Kegiatan-kegiatan ini meliputi pekerjaan yang bersifat minor dan tidak dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi jalan dan/atau jembatan ke kondisi semula yang lebih baik dan juga bukan memperbaiki kondisi jalan dan/atau jembatan ke kondisi yang lebih baik dari semula.
  3. 3) Pekerjaan Pengembalian Kondisi harus dimulai sesegera mungkin selama periode mobilisasi dan dimaksudkan untuk mengembalikan jalan lama dan jembatan minor yang ada ke suatu kondisi yang dapat digunakan, konsisten dengan kebutuhan normal untuk jalan dan/atau jembatan menurut jenisnya. Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pengembalian kondisi meliputi penambalan perkerasan, perbaikan tepi perkerasan, pelaburan permukaan yang retak, perataan berat pada jalan kerikil untuk menghilangkan keriting (corrugations) pada permukaan, perbaikan beton yang terkelupas atau retak, pengecatan kembali pada lapis pelindung yang terpengaruh cuaca untuk pekerjaan kayu dan baja, dsb.
  4. 4) Pekerjaan Utama akan diterapkan pada ruas jalan termasuk jembatan minor yang pengembalian kondisinya telah selesai dan dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi jalan termasuk jembatan minor ke kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya. Pekerjaan Utama juga diterapkan untuk pembangunan jalan dan jembatan baru atau penggantian jembatan lama. Pekerjaan ini umumnya akan berupa overlay atau pelapisan kembali permukaan perkerasan, bila perlu, dilapisi terlebih dahulu dengan lapis perkuatan (strengthening layer). Pekerjaan semacam ini akan memperbaiki kerataan maupun bentuk permukaan jalan dan/atau meningkatkan proyeksi umur struktur perkerasan pada ruas jalan tersebut.
  5. 5) Cakupan Kontrak ini juga mengharuskan Kontraktor untuk melakukan survei la-pangan yang cukup detil selama periode mobilisasi agar Direksi Pekerjaan dapat melaksanakan revisi minor dan menyelesaikan detil pelaksanaan pekerjaan sebelum operasi pelaksanaan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam Pasal
    1. 1.1.3 dari Spesifikasi ini.
    2. 1.1.2. KLASIFIKASI PEKERJAAN KONSTRUKSI
1) Umum Dalam cakupan pekerjaan dari Kontrak ini, tiga kelompok pekerjaan yang berbeda yaitu pekerjaan utama, pekerjaan pengembalian kondisi dan minor, dan pekerjaan pemeliharan rutin, dapat terdiri dari, tetapi tidak terbatas pada, salah satu atau semua klasifikasi pekerjaan yang terdaftar di bawah ini. 2) Pekerjaan Utama a) Pelapisan Struktural i) Overlay dengan lapisan aspal yang terdiri dari perataan dan perkuatan dari AC-BC atau HRS-Base atau lapisan lainnya yang ditunjukkan dalam Gambar dan dilanjutkan dengan pelapisan permukaan memakai AC-WC atau HRS-WC atau lapisan jenis lainnya yang ditunjukkan dalam Gambar. ii) Pekerjaan penghamparan Lapis Pondasi Agregat untuk rekonstruksi ruas jalan yang rusak berat terdiri dari Lapisan Pondasi Bawah, Lapis Pondasi Atas dan diikuti dengan salah satu jenis pelapisan permukaan yang disebutkan diatas. b) Pelapisan Non Struktural i) Overlay dengan satu lapis lapisan beraspal, seperti Latasir, HRS-WC, AC-WC, Lasbutag, Latasbusir atau Campuran Dingin untuk meratakan permukaan dan menutup perkerasan lama yang stabil. ii) Overlay dengan dua lapis lapisan beraspal, terdiri dari lapis perata AC-BC atau AC-Base atau HRS-Base, dan dilanjutkan dengan pelapisan permukaan memakai AC-WC atau HRS-WC atau lapisan jenis lainnya yang ditunjukkan dalam Gambar, untuk meratakan dan menutup perkerasan lama yang stabil. c) Pelaburan Non Struktural i) Pelaburan memakai BURTU atau BURDA pada perkerasan jalan lama dengan lalu lintas rendah, dimana permukaan perkerasan tersebut cukup rata dan mempunyai punggung jalan (camber) yang mmenuhi. d) Pengerikilan Kembali Jalan Tanpa Berpenutup Aspal i) Pengerikilan kembali untuk mengganti kerikil yang hilang oleh lalu lintas dan meningkatkan kekuatan struktur perkerasan kerikil yang ada pada ruas jalan yang lemah. e) Penambahan / Rekonstruksi Bahu Jalan Sepanjang Jalan Berpenutup Aspal i) Bahu jalan berpenutup aspal yang terdiri dari Lapis Pondasi Agregat Kelas A yang dilapisi dengan BURTU. ii) Bahu jalan tanpa penutup aspal terdiri dari Lapis Pondasi Agregat Kelas B. f) Penambahan atau Rekonstruksi Pekerjaan Penunjang i) Selokan tanah. ii) Selokan dan drainase yang dilapisi. iii) Gorong-gorong pipa dari beton. iv) Gorong-gorong persegi dari beton. v) Pekerjaan tanah untuk perbaikan kelongsoran. vi) Peninggian elevasi permukaan jalan (grade raising), hanya bila benar-benar diperlukan dan dana dalam Kontrak masih mencukupi. vii) Pekerjaan struktur lainnya, seperti jembatan kecil dan sebagainya. viii) Pekerjaan perlindungan talud, seperti pasangan batu kosong dengan atau tanpa adukan dan bronjong. ix) Re-alinyemen horisontal minor, hanya bila benar-benar diperlukan untuk alasan keamanan dan dana dalam Kontrak masih mencukupi. g) Pekerjaan Pembangunan Jembatan Baru atau Penggantian Jembatan Lama i) Pekerjaan pondasi, seperti sumuran, tiang pancang, dan sebagainya. ii) Pekerjaan bangunan bawah, seperti abutment dan pier jembatan. iii) Pekerjaan bangunan atas, seperti gelagar beton bertulang atau beton pratekan atau baja. 3) Pekerjaan Pengembalian Kondisi dan Minor a) Pengembalian Kondisi Perkerasan i) Penambalan perkerasan, meliputi penggalian lokasi tertentu jalan yang berlubang-lubang atau rusak berat dan pengisian kembali, pemadatan dan pekerjaan penyelesaian dengan bahan pengembalian kondisi yang sesuai dengan bahan perkerasan lama. ii) Penutupan lubang-lubang yang besar pada perkerasan berpenutup aspal. iii) Perbaikan tepi perkerasan pada perkerasan berpenutup aspal. iv) Pelaburan setempat pada perkerasan berpenutup aspal yang retak-retak, dimana luas bagian yang retak lebih besar dari 10 % dan kurang dari 30 % terhadap luas total perkerasan. v) Pekerjaan perataan setempat baik pada jalan dengan atau tanpa berpenutup aspal untuk mengisi bagian yang ambles (depression) setempat dan untuk mengurangi kekasaran perkerasan sampai batas-batas yang diterima. vi) Perataan berat setempat pada jalan tanpa penutup aspal untuk menghi-langkan ketidakrataan permukaan dan mempertahankan bentuk permukaan semula, dilanjutkan dengan pemadatan kembali dengan mesin gilas. b) Pengembalian Kondisi Bahu Jalan i) Sama dengan pengembalian kondisi perkerasan tetapi terbatas pada bahu jalan yang berlubang-lubang atau rusak berat. ii) Pengupasan bahu jalan yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan yang telah selesai dikerjakan sehingga mencapai ketinggian yang benar. c) Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Timbunan, Galian dan Peng-hijauan i) Penggalian dan pembentukan kembali saluran drainase tanpa pelapisan (unlined) yang runtuh atau alinyemen yang jelek pada lokasi tertentu agar kemampuan operasional sistem drainase dapat dikembalikan seperti semula. Seluruh pekerjaan rekonstruksi saluran yang tidak dilapisi akan diklasifikasikan sebagai pekerjaan utama menurut uraian pekerjaan (2)(f) diatas. ii) Perbaikan setempat pada beton non-struktural yang retak atau terke-lupas, pasangan batu dengan mortar (mortared stonework) atau pasangan batu (stone masonry) untuk saluran yang dilapisi (lined) dan gorong-gorong. Perbaikan struktural pada saluran yang dilapisi (lined) dan gorong-gorong termasuk rekonstruksi seluruh atau sebagian dari ruas yang rusak akan diklasifikasikan sebagai pekerjaan utama menurut uraian pekerjaan (2)(f) diatas. iii) Pekerjaan galian minor atau penimbunan yang diperlukan untuk membentuk ulang dan meratakan kembali timbunan atau galian yang ada, dimana timbunan atau galian tersebut yang mengalami kelongsoran atau erosi. iv) Stabilisasi dengan tanaman pada timbunan atau galian yang terekspos. v) Penanaman semak atau pohon baru sebagai pengganti tanaman lama yang ditebang untuk pelebaran jalan atau untuk tujuan lainnya. d) Perlengkapan Jalan dan Pengatur Lalu Lintas i) Pengecatan Marka Jalan. ii) Penyediaan dan pemasangan Rambu Jalan, Patok Pengarah dan Patok Kilometer. iii) Penyediaan dan pemasangan Rel Pengaman. iv) Penyediaan dan pemasangan Paku Jalan dan Mata Kucing. v) Penyediaan dan pemasangan Kerb dan Trotoar. vi) Penyediaan dan pemasangan Lampu Pengatur Lalu Lintas dan Lampu Penerangan Jalan. e) Pengembalian Kondisi Jembatan Perbaikan terbatas atau penggantian bagian-bagian dari struktur-atas jembatan yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural atau non-struktural. Perbaikan dapat dilakukan terhadap struktur jembatan beton, baja atau kayu dan dapat meliputi : i) Penyuntikan (grouting) pada beton yang retak. ii) Perbaikan pada beton yang terkelupas. iii) Pembuangan dan penggantian beton struktur yang rusak. iv) Penggantian baja yang tertanam seperti sambungan ekspansi. v) Perbaikan atau penggantian sandaran (hand railing) yang rusak. vi) Pembuangan dan penggantian baja struktur yang berkarat berat. vii) Pembuangan dan penggantian kayu yang lapuk. viii) Penggantian konektor yang berkarat. ix) Pembersihan dan pengecatan kayu atau baja struktur 4) Pekerjaan Pemeliharaan Rutin a) Perkerasan Lama i) Penambalan lubang kecil dan pelaburan setempat pada permukaan perkerasan berpenutup aspal lama yang masih utuh (sound) dimana luas lokasi yang retak kurang dari 10 % terhadap luas total perkerasan. ii) Perataan ringan secara rutin dengan motor grader pada jalan tanpa penutup aspal untuk mengendalikan terjadinya lubang atau keriting (corrugations). b) Bahu Jalan Lama i) Penambalan lubang pada bahu jalan lama tanpa penutup aspal. ii) Penambalan lubang dan pelaburan retak pada bahu jalan lama ber-penutup aspal. c) Selokan, Saluran Air, Galian dan Timbunan i) Pembersihan dan pembuangan lumpur secara rutin pada selokan dan saluran yang ada. ii) Pembuangan semua sampah dari sistem drainase yang ada setelah hujan lebat. iii) Pemotongan rumput secara rutin dan pengendalian pertumbuhan tanaman pada galian, timbunan, lereng dan berm. d) Perlengkapan Jalan i) Pengecatan ulang semua rambu jalan, patok tanda dan lainnya yang tidak terbaca. ii) Pembersihan rutin terhadap semua perlengkapan jalan dan pengatur lalu lintas. iii) Perbaikan minor terhadap masing-masing jenis perlengkapan jalan. e) Jembatan i) Pemeriksaan dan pembersihan rutin pada semua komponen struktur jembatan dimana korosi pada baja atau pelapukan pada kayu dapat terjadi jika tidak dibersihkan. ii) Pemeriksaan dan pembersihan rutin kotoran dari semua saluran air dimana penggerusan terhadap timbunan atau pondasi jembatan dapat terjadi jika tidak dibersihkan. iii) Pemeriksaan dan pembersihan rutin semua kotoran dan sampah dari lubang-lubang drainase lantai jembatan dan pipa-pipa saluran. 1.1.3 KETENTUAN REKAYASA (ENGINEERING) 1) Umum Sebelum pekerjaan survei dimulai Kontraktor harus mempelajari Gambar asli untuk dikonsultasikan dengan Direksi Pekerjaan, dan harus memastikan dan memperbaiki setiap kesalahan atau perbedaan yang terjadi, terutama yang berhubungan dengan lebar jalan lama, lokasi setiap pelebaran perkerasan dan struktur drainase. Kontraktor dan Direksi Pekerjaan harus mencapai kesepakatan dalam menentukan ketepatan setiap perubahan yang dibuat dalam Gambar ini. Kuantitas dalam Daftar Kuantitas dan Harga dapat diubah oleh Direksi Pekerjaan setelah revisi minor terhadap seluruh rancangan telah selesai, dimana revisi minor ini harus berdasarkan data survei lapangan yang dikumpulkan oleh Kontraktor sebagai bagian dari cakupan perkerjaan dalam Kontrak. 2) Survei Lapangan oleh Kontraktor Selama periode mobilisasi pada saat dimulainya Kontrak, Kontraktor harus melak-sanakan survei lapangan yang lengkap terhadap kondisi fisik dan struktur pada perkerasan jalan lama, bahu jalan lama dan semua ciri-ciri tambahan lainnya seperti sistem drainase, jembatan dan struktur minor lainnya, marka jalan, rambu lalu lintas, dan lain sebagainya. Ketentuan survei lapangan yang lengkap dan detil terdapat dalam Seksi 1.9, Rekayasa Lapangan. Setelah pekerjaan survei lapangan ini selesai, Kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan laporan lengkap dan detil dari hasil survei ini kepada Direksi Pekerjaan, tidak lebih dari tanggal yang ditentukan dalam Pasal 1.1.4 dari Spesifikasi ini. Tanggal penyerahan ini akan merupakan tonggak yang sangat penting bagi dimulainya peker-jaan dalam Kontrak dengan lebih dini dan berhasil. 3) Revisi oleh Direksi Pekerjaan Detil pelaksanaan yang lengkap pada setiap mata pekerjaan dalam cakupan Kontrak ini akan diterbitkan secara bertahap untuk Kontraktor dan bilamana detil pelaksanaan ini telah disiapkan, dapat mencakup, tetapi tidak boleh terbatas pada, sebagian atau seluruh hal-hal berikut : a) Revisi minor terhadap rancangan perkerasan dan/atau jembatan. b) Detil peningkatan bahu jalan. c) Detil setiap perbaikan alinyemen yang diperlukan, jika ada. d) Detil setiap pelebaran jalur lalu lintas (carriageway), jika ada. e) Detil perbaikan selokan atau drainase. f) Detil struktur drainase g) Detil pekerjaan pengendalian lereng, pasangan batu kosong, pekerjaan stabilisasi timbunan atau galian. h) Detil marka jalan. i) Detil rambu jalan, patok pengaman dan rel pengaman dan lain sebagainya, baik pemasangan baru maupun penggantian. j) Detil pekerjaan pengembalian kondisi jembatan. 1.1.4 URUTAN PEKERJAAN 1) Cakupan pekerjaan dalam Kontrak ini mensyaratkan bahwa kegiatan tertentu harus diselesaikan secara berurutan menurut tongak-tonggak yang telah ditetapkan sebe-lumnya. Kecuali jika ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, tanggal yang menjadi tonggak utama bagi kegiatan yang kritis adalah sebagai berikut : a) Survei lapangan termasuk peralatan pengujian yang diperlukan dan penyerahan laporan oleh Kontraktor. : 30 hari setelah pengambilalihan lapangan oleh Kontraktor b) Revisi Minor oleh Direksi Pekerjaan telah selesai. : 60 hari setelah pengambilalihan lapangan oleh Kontraktor, walau keluarnya detil pelaksanaan dapat bertahap setelah tanggal ini. c) Pekerjaan pengembalian kondisi perkerasan dan bahu jalan selesai. : 60 hari setelah pengambilalihan lapangan oleh Kontraktor. d) Pekerjaan minor pada selokan, saluran air, galian dan timbunan, pemasangan perlengkapan jalan dan pekerjaan pengembalian kondisi jembatan. : 90 hari setelah pengambilalihan lapangan oleh Kontraktor. e) Pekerjaan drainase selesai. : Sebelum dimulainya setiap overlay. 2) Diagram yang menjelaskan lingkup dan urutan kegiatan dalam pekerjaan dari berbagai pekerjaan utama diberikan dalam Lampiran 1.1.A pada akhir Seksi ini. 1.1.5 PEMBAYARAN PEKERJAAN 1) Kontraktor harus melaksanakan Pekerjaan sesuai dengan detil yang diberikan dalam Gambar, dan sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, dimana sebagian besar pekerjaan tersebut akan dibayar menurut sistem Harga Satuan. Pembayaran kepada Kontraktor harus dilakukan berdasarkan kuantitas aktual yang diukur pada masing-masing Mata Pembayaran dalam Kontrak yang telah dilaksanakan sesuai dengan Seksi yang berkaitan dari Spesifikasi ini, baik cara pengukuran maupun pembayarannya. Pembayaran juga akan dilakukan berdasarkan pengukuran dan pembayaran Lump Sum untuk mata pembayaran “Mobilisasi”, “Relokasi Utilitas dan Pelayanan Yang Ada”, “Cofferdam, Penyokong, Pengaku, dan pekerjan yang terkait”, dan “Pekerjaan Pemeliharaan Rutin”, serta pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan yang diperintahkan atas dasar Pekerjaan Harian. 2) Pembayaran yang diberikan kepada Kontraktor harus mencakup kompensasi penuh untuk seluruh biaya yang dikeluarkan seluruh pekerja, bahan, peralatan konstruksi, pengorganisasian pekerjaan, biaya tak terduga, keuntungan, retribusi, pajak, pengamanan pekerjaan yang telah selesai dikerjakan, pembayaran kepada pihak ketiga untuk tanah atau untuk penggunaan atas tanah, atau untuk kerusakan bangunan (property), maupun untuk semua biaya pekerjaan tambah yang tidak dibayar secara terpisah, seperti pembuatan drainase sementara untuk melindungi pekerjaan selama pelaksanaan, pengangkutan, perkakas, peledakan dan bahan untuk peledakan, penurapan, penyangga, pembuatan tempat kerja (staging), pembuatan tanda sumbu (centering) dan penopang dan lain-lain biaya yang diperlukan atau lazim dipakai untuk pelaksanaan dan penyelesaian yang sebagaimana mestinya dari Pekerjaan tersebut.
Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karakteristik campuran aspal panas terhadap penggunaan bahan tambahan

Karakteristik campuran aspal panas terhadap penggunaan bahan tambahan

Campuran aspal panas adalah suatu campuran perkerasan jalan lentur yang
terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler, dan bahan pengikat aspal dengan
perbandingan-perbandingan tertentu dan dicampurkan dalam kondisi panas. Di
Indonesia jenis campuran aspal panas yang lazim digunakan antara lain : Aspal
Beton, Hot RoIIed Sheet (HRS), dan Split Mastic Asphalt (SMA)
. Banyak
dilakukan percobaan-percobaan dengan menambahkan bahan tambahan untuk
meningkatkan mutu perkerasan.
Studi kepustakaan tentang penambahan bahan tambahan memberikan
pengaruh terhadap karakteristik masing-masing jenis campuran aspal panas. Hasil
dari studi ini menunjukkan bahwa setiap bahan tambahan memberikan hasil yang
berbeda-beda terhadap nilai stabilitas Marshall, flow, Void In Mix, Void Filled
Bitumen dan Marshall Ouotient. Untuk campuran aspal beton bahan tambahan
polyetilene dan lateks KKK 20 kadar 2% memberikan hasil yang memenuhi
spesifikasi aspal beton (kecuali parameter Marshall Quotient), pada Hot Rolled
Sheet bahan tambahan lateks KKK 20, gilsonite dan bahan yang mengandung
bahan dasar semen memberikan hasil yang memenuhi seluruh syarat spesifikasi
HRS B, dan pada campuran Split Mastic Asphalt aditif Viatop dan Vestoplast
memberikan hasil yang memenuhi syarat spesifikasi Split Mastic Asphalt.
Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS