RSS

PENGERTIAN BETON

Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk, jalan, dan lain lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain, kadang kadang dengan bahan tambahan (additif) yang bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air. Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan poripori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan,sehingga butiran butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama. Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar mencampurkan bahan-bahan dasarnya untuk membentuk campuran yang plastis sebagaimana sering terlihat pada pembuatan bangunan sederhana. Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton segar yang baik dan menghasilkan beton keras yang baik pula. Beton segar yang baik ialah beton segar yang dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil (Tjokrodimulyo 1996 : 2)
Beton memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain sebagai berikut (Tjokrodimulyo 1996 :

Kelebihan Beton
1. Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat tahan terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan.
2. Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis.
3. Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
4. Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat yang posisinya sulit.
5. Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.

Kekurangan Beton
1. Beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik, sehingga mudah retak, Oleh karena itu perlu di beri tulangan sebagai penahan gaya tarik.
2. Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan suhu,sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah terjadinya retakan retakan akibat terjadinya perubahan suhu.
3. Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan dengan pengerjaan yang teliti.
4. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti secara seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi
bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.
Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ASPAL BETON CAMPURAN PANAS (HOT MIX)

A. PENYAJIAN

Aspal beton campuran panas merupakan salah satu jenis dari lapis perkerasan konstruksi perkerasan lentur. Jenis perkerasan ini merupakan campuran merata antara agregat dan aspal sebagai bahan pengikat pada suhu tertentu. Untuk mengeringkan agregat dan mendapatkan tingkat kecairan yang cukup dari aspal sehingga diperoleh kemudahan untuk mencampurnya, maka kedua material harus dipanaskan dulu sebelum dicampur. Karena dicampur dalam keadaan panas maka seringkali disebut sebagai “ hot mix “.
pekerjaan pencampuran dilakukan di pabrik pencampur , kemudian dibawa ke lokasi dan di hampar dengan mempergunakan alat penghampar (paving machine) sehingga diperoleh lapisan lepas yang seragam dan merata untuk selanjutnya dipadatkan dengan mesin pemadat dan akhirnya diperoleh lapisan padat aspal beton.


B. KLASIFIKASI ASPAL BETON

B.1. Berdasarkan fungsinya aspal beton campuran panas dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Sebagai lapis permukaan yang tahan terhadap cuaca, gaya geser, dan tekanan roda serta memberikan lapis kedap air yang dapat melindungi lapis dibawahnya dari rembesan air.
2. Sebagai lapis pondasi atas
3. Sebagai lapis pembentuk pondasi, jika dipergunakan pada pekerjaan peningkatan atau pemeliharaan.
Sesuai dengan fungsinya maka lapis aspal beton mempunyai kandungan agregat dan aspal yang berbeda. Sebagai lapis aus, maka kadar aspal yang dikandungnya haruslah cukup sehingga dapat memberikan lapis yang kedap air. Agregat yang dipergunakan lebih halus dibandingkan dengan aspal beton yang berfungsi sebagai lapis pondasi.

B.2. Berdasarkan metode pencampurannya, aspal beton dapat dibedakan atas:

1. Aspal beton Amerika, yang bersumber kepada Asphalt Institute.
2. Aspal beton durabilitas tinggi, yang bersumber pada BS 594, Inggris, dan dikembangkan oleh CQCMU, Bina Marga, Indonesia.

C. KARAKTERISTIK CAMPURAN

Karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh campuran aspal beton campuran panas adalah :
1. Stabilitas
2. Durabilitas
3. Fleksibilitas
4. Tahanan geser (skid resistance)
5. Kedap air
6. Kemudahan pekerjaan (workability)
7. Ketahanan kelelehan (fatique resistance)

S t a b i l i t a s
Stabilitas lapisan pekerjaan jalan adalah kemampuan lapisan perkerasan menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur ataupun bleeding. Kebutuhan akan stabilitas setingkat dengan jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang akan memakai jalan tersebut. Jalan dengan volume lalu lintas tinggi dan sebagian besar merupakan kendaraan berat menuntut stabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan jalan dengan volume lalu lintas yang hanya terdiri dari kendaraan penumpang saja. Kestabilan yang terlalu tinggi menyebabkan lapisan itu menjadi kaku dan cepat mengalami retak, disamping itu karena volume antar agregat kurang, mengakibatkan kadar aspal yang dibutuhkan rendah. Hal ini menghasilkan film aspal tipis dan mengakibatkan ikatan aspal mudah lepas sehingga durabilitasnya rendah.

Stabilitas terjadi dari hasil geseran antar butir, penguncian antar partikel dan daya ikat yang baik dari lapisan aspal. Dengan demikian stabilitas yang tinggi dapat diperoleh dengan mengusahakan penggunaan :
1. agregat dengan gradasi yang rapat (dense graded)
2. agregat dengan permukaan yang kasar
3. agregat berbentuk kubus
4. aspal dengan penetrasi rendah
5. aspal dengan jumlah yang mencukupi untuk ikatan antar butir

Agregat bergradasi baik, bergradasi rapat memberikan rongga antar butiran agregat (voids in mineral agregat = VMA) yang kecil. Keadaan ini menghasilkan stabilitas yang tinggi, tetapi membutuhkan kadar aspal yang rendah untuk mengikat agregat. VMA yang kecil mengakibatkan aspal yang dapat menyelimuti agregat terbatas dan menghasilkan film aspal yang tipis. Film aspal yang tipis mudah lepas yang mengakibatkan lapis tidak lagi kedap air, oksidasi mudah terjadi, dan lapis perkerasan menjadi rusak. Pemakaian aspal yang banyak mengakibatkan aspal tidak lagi dapat menyelimuti agregat dengan baik ( karena VMA kecil) dan juga menghasilkan rongga antar campuran (voids in mix = VIM ) yang kecil. Adanya beban lalu lintas yang menambah pemadatan lapisan mengakibatkan lapisan lapisan aspal meleleh keluar yang dinamakan bleeding.


Durabilitas ( keawetan / daya tahan )
Durabilitas diperlukan pada lapisan permukaan sehingga lapisan dapat mampu menahan keausan akibat pengaruh cuaca, air dan perubahan suhu ataupun keausan akibat gesekan kendaraan.

Faktor yang mempengaruhi durabilitas lapis aspal beton adalah :
1. Film aspal atau selimut aspal, film aspal yang tebal dapat menghasilkan lapis aspal beton yang berdurabilitas yang tinggi, tetapi kemungkinan terjadinya bleeding menjadi tinggi.
2. VIM kecil sehingga lapis kedap air dan udara tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal menjadi rapuh / getas.
3. VMA besar, sehingga film aspal dapat dibuat tebal. Jika VMA dan VIM kecil serta kadar aspal tinggi kemungkinan terjadinya bleeding besar. Untuk mencapai VMA yang besar ini dipergunakan agregat bergradasi senjang.

Fleksibilitas (kelenturan)
Fleksibilitas pada lapisan perkerasan adalah kemampuan lapisan untuk dapat mengikuti deformasi yang terjadi akibat beban lalu lintas berulang tanpa timbulnya retak dan perubahan volume. Fleksibilitas yang tinggi dapat diperoleh dengan :
1. Penggunaan agregat bergradasi senjang sehingga diperoleh VMA yang besar.
2. Penggunaan aspal lunak (aspal dengan penetrsi yang tinggi)
3. Penggunaan aspal yang cukup banyak sehingga diperoleh VIM yang kecil.

Skid resistance (tahanan geser / kekesatan)
Tahanan geser adalah kekesatan yang diberikan oleh perkerasan sehingga kendaraan tidak mengalami slip baik di waktu hujan atau basah maupun diwaktu kering. Kekesatan dinyatakan dengan koefisien geser antar permukaan jalan dan ban kendaraan.
Tahanan geser tinggi jika :
1. penggunaan kadar aspal yang tepat sehingga tak terjadi bleeding.
2. Penggunaan agregat dengan permukaan kasar
3. Penggunaan agregat berbentuk kubus
4. Penggunaan agregat kasar yang cukup

Ketahanan kelelehan (fatique resistance)
Ketahanan kelelehan adalah ketahanan dari lapis aspal beton dalam menerima beban berulang tanpa terjadinya kelelehan yang berupa alur (ruting) dan retak.
Faktor yang mempengaruhi ketahanan terhadap kelelehan adalah :
1. VIM yang tinggi dan kadar aspal yang rendah akan mengakibatkan kelelahan yang lebih cepat.
2. VMA yang tinggi dan kadar aspal yang tinggi dapat mengakibatkan lapis perkerasan menjadi fleksibel.
Kemudahan pelaksanaan (workability)
Yang dimaksud dengan kemudahan pelaksanaan adalah mudahnya suatu campuran untuk dihampar dan dipadatkan sehingga diperoleh hasil yang memenuhi kepadatan yang diharapkan.
Faktor yang mempengaruhi kemudahan dalam pelaksanaan adalah :
1. Gradasi agregat, agregat bergradasi baik lebih mudah dilaksanakan dari pada agregat bergradasi lain.
2. Temperatur campuran, yang ikut mempengaruhi kekerasan bahan pengikat yang bersifat termoplastis.
3. Kandungan bahan pengisi (filler) yang tinggi menyebabkan pelaksanaan lebih sukar.


D. PERENCANAAN CAMPURAN

Jika agregat dicampur dengan aspal maka :
1. Partikel-partikel antar agregat akan terikat satu sama lain oleh aspal
2. Rongga-rongga agregat ada yang terisi aspal dan ada pula yang terisi udara
3. Terdapat rongga antar butir yang terisi udara
4. Terdapat lapisan aspal yang ketebalannya tergantung dari kadar aspal yang dipergunakan untuk menyelimuti partikel-partikel agregat.
Lapisan aspal yang baik haruslah memenuhi 4 syarat yaitu stabilitas, durabilitas, fleksibilitas dan tahanan geser seperti penjelasan pada bab 7.2. diatas, tetapi jika memakai gradasi rapat (dense graded) akan menghasilkan kepadatan yang baik, berarti memberikan stabilitas yang baik, tetapi mempunyai rongga pori yang kecil sehingga memberikan kelenturan (fleksibilitas) yang kurang baik dan akibat tambahan pemadatan dari beban lalu lintas berulang serta aspal yang mencair akibat pengaruh cuaca akan memberikan tahanan geser yang kecil.
Sebaiknya jika menggunakan gradasi terbuka, akan diperoleh kelenturan yang baik, tetapi stabilitas yang kecil. Kadar aspal yang terlalu sedikit akan mengakibatkan lapisan pengikat antar butir kurang, lebih-lebih jika kadar rongga yang dapat diresapi aspal besar. Hal ini akan mengakibatkan lapisan pengikat aspal cepat lepas dan durabilitas berkurang.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa haruslah ditentukan campuran antara agregat dan aspal seoptimal mungkin sehingga dihasilkan lapisan perkerasan dengan kwalitas yang seoptimal mungkin. Dengan kata lain haruslah direncanakan campuran yang meliputi gradasi agregat (dengan juga memperhatikan mutu agregat) dan kadar aspal sehingga dihasilkan lapisan perkerasan yang dapat memenuhi ke-4 syarat diatas yaitu :
1. Kadar aspal cukup memberikan kelenturan
2. Stabilitas cukup memberikan kemampuan memikul beban sehingga tak terjadi deformasi yang merusak.
3. Kadar rongga cukup memberikan kesempatan untuk pemadatan tambahan akibat beban berulang dan flow dari aspal.
4. Dapat memberikan kemudahan kerja sehingga tak terjadi segregasi.
5. Dapat memberikan campuran yang akhirnya menghasilkan lapis perkerasan yang sesuai dengan persyaratan dalam pemilihan lapis perkerasan pada tahap perencanaan.
Dengan demikian faktor yang mempengaruhi kualitas dari aspal beton adalah:
1. Absorbsi aspal
2. Kadar aspal efektif
3. Rongga antar butir (VMA)
4. Rongga udara dalam campuran (VIM)
5. Gradasi agregat



E. Pemeriksaan dengan alat Marshall

Kinerja campuran aspal beton dapat diperiksa dengan menggunakan alat pemeriksaan Marshall. Pemeriksaan ini pertama kali diperkenalkan oleh Bruce Marshall, selanjutnya dikembangkan oleh U.S Corps of Engineer. Saat ini pemeriksaan Marshall mengikuti prosedure PC-0201-76 atau AASHTO T 245-74, atau ASTM D 1559-62T.
Pemeriksaan dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) terhadap kelelehan plastis (flow) dari campuran aspal dan agregat. Kelelehan plastis adalah keadaan perubahan bentuk suatu campuran yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01”.
Alat Marshall merupakan alat tekan yang dilengkapi dengan proving ring (cincin penguji) yang berkapasitas 2500 kg atau 5000 pon. Proving ring dilengkapi dengan arloji pengukur yang berguna untuk mengukur stabilitas campuran. Disamping itu terdapat arloji kelelehan (flow meter) untuk mengukur kelelehan plastis (flow).
Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 7,5 cm dipersiapkan di laboratorium, dalam cetakan benda uji dengan mempergunakan hammer (penumbuk) dengan berat 10 pon (4,536 kg) dan tinggi jatuh 18 inch (45,7 cm), dibebani dengan kecepatan tetap 50 mm/menit.
Dari proses persiapan benda uji sampai pemeriksaan dengan alat Marshall, diperoleh data-data sebagai berikut :

1. Kadar aspal, dinyatakan dalam bilangan desimal satu angka dibelakang koma.
2. Berat volume, dinyatakan dalam ton/m3
3. Stabilitas, dinyatakan dalam bilangan bulat. Stabilitas menunjukkan kekuatan, ketahanan terhadap terjadinya alur (ruting).
4. Kelelehan plastis (flow), dinyatakan dalam mm atau 0,01 inch. Flow dapat merupakan indikator terhadap lentur.
5. VIM, persen rongga dalam campuran, dinyatakan dalam bilangan desimal satu angka belakang koma. VIM merupakan indikator dari durabilitas, kemungkinan bleeding.
6. VMA, persen rongga terhadap agregat, dinyatakan dalam bilangan bulat. VMA bersama dengan VIM merupakan indikator dari durabilitas.
7. Hasil bagi Marshall (kuosien Marshall, merupakan hasil bagi stabilitas dan flow. Dinyatakan dalam kN/mm. Merupakan indikator kelenturan yang potensial terhadap keretakan.
8. Penyerapan aspal, persen terhadap berat campuran, sehingga diperoleh gambaran berapa kadar aspal efektifnya.
9. Tebal lapisan aspal (film aspal), dinyatakan dalam mm. Film aspal merupakan petunjuk tentang sifat durabilitas campuran.
10. Kadar aspal efektif, dinyatakan dalam bilangan desimal satu angka dibelakang koma.

F. Spesifikasi campuran

Dapat diketahui bahwa sifat campuran sangat ditentukan dari gradasi agregat , kadar aspal total dan kadar aspal efektif, VIM, VMA, dan sifat bahan baku sendiri. Variasi dari hal tersebut diatas akan menghasilkan kwalitas dan keseragaman campuran yang berbeda-beda. Untuk itu agar dapat memenuhi kwalitas dan keseragaman jenis lapisan yang telah dipilih dalam perencanaan perlu dibuatkan spesifikasi campuran yang menjadi dasar pelaksanaan dilapangan. Dengan spesifikasi itu diharapkan dapat diperoleh sifat campuran yang memenuhi syarat teknis dan keawetan yang diharapkan.

Spesifikasi campuran berbeda-beda, dipengaruhi oleh :
- Perencanaan tebal perkerasan, yang dipengaruhi oleh metode apa yang dipergunakan.
- Ekspresi gradasi agregat, yang dinyatakan dalam nomor saringan. Nomor-nomor saringan mana saja yang umum dipergunakan dalam spesifikasi.
- Kadar aspal yang umum dinyatakan dalam persen terhadap berat campuran seluruhnya.
- Komposisi dari campuran, meliputi agregat dengan gradasi yang bagaimana yang akan dipergunakan.
- Sifat campuran yang diinginkan, dinyatakan dalam nilai stabilitas, flow, VIM, VMA, tebal film aspal.
- Metode rencana campuran yang dipergunakan.

G. Perencanaan campuran

Perencanaan campuran diperlukan untuk mendapatkan resep campuran yang memenuhi spesifikasi., menghasilkan campuran yang memenuhi kinerja yang baik dari agregat yang tersedia.
Metode perencanaan campuran yang umum dipergunakan di Indonesia adalah:
1. Metode Bina Marga, bersumber dari BSS94 dan dikembangkan untuk kebutuhan di Indonesia oleh CQCMU (Central Quality Control & Monitoring Unit), Bina marga sehingga lebih dikenal dengan nama metode CQCMU.
2. Metode Asphalt Institut
Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KINERJA ASPAL BETON DENGAN MENGGUNAKAN GRADASI AGGREGAT SUPERPAVE (Superior performing asphalt pavement)

The strategic Higway Research Program (SHRP) di USA telah membuat spesifikasi baru untuk gradasi campuran aspal yang disebut Superpave. Lima jenis gradasi aggregate dikatagorikan dalam ukuran nominal maksimum. Ciri-ciri utama dari gradasi ini adalah sebuah daerah terbatas (restricted zone) yang harus dihindari.
Tesis ini menguraikan hasil penyelidikan laboratorium dari campuran lapis pengikat aspal beton yang terdiri dari lima gradasi agregat, dan memenuhi batas spesifikasi gradasi agregat superpave untuk ukuran nominal maksimum 19 mm; satu gradasi melalui daerah terbatas dan satu menggunakan gradasi Bina Marga Jenis V yang melalui bagian tengah. Analis Marshall menunjukkan bahwa
kadar aspal optimum terendah adalah gradasi Bina Marga (5.5%) dan tertinggi adalah batas bawah (kasar) gradasi superpave (5.9%). Semua campuran memenuhi kriteria desain campuran The Asphalt Institute dan tidak ada petunjuk yang berarti bahwa campuran yang dibuat dengan gradasi melalui daerah terbatas mempunyai sifat lebih rendah dengan campuran lainnya. Semua campuran memenuhi kriteria Bina Marga tentang ketahanan terhadap pengaruh air. Campuran dsisiapkan pada kadar aspal optimum untuk pengujian indirect tensile strength (static load), ketahanan terhadap deformasi permanen dengan uji wheel tracking dan indeks kemudahan pekerjaan menggunakan uji Gyropac. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kinerja campuran gradasi Bina Marga adalah lebih baik dan kinerja gradasi batas bawah superpave lebih rendah, sedangkan dari data yang didapatkan untuk kinerja tiga gradasi superpave lainnya cenderung terletak antara kedua kinerja gradasi di atas. Sekali lagi, tidak ada petunjuk yang dapat memperlihatkan bahwa campuran yang dibuat dengan menggunakan gradasi agregat superpave yang melalui daerah terbatas mempunyai kinerja tidak memuaskan. dalam penelitian ini, benda uji disiapkan dan dianalisa sesuai dengan prosedure Marshall.
Untuk itu diharapkan penelitian yang akan datang, penyiapan benda uji menggunakan prosedure dan pemadatan dengan alat gyropac sesuai spesifikasi superpave.


Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FASILITAS DAN PERALATAN PELABUHAN di Makassar

FASILITAS DAN PERALATAN PELABUHAN

A. PANGKALAN SOKARNO
DERMAGA I
Nama : Dermaga 100 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 100 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 1.100 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik :PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero)
Pelabuhan Makassar

DERMAGA II
Nama : Dermaga 101 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 330 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 3.630 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero)




FASILITAS DAN PERALATAN PELABUHAN
A. PANGKALAN SOKARNO
DERMAGA I
Nama : Dermaga 100 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 100 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 1.100 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik :PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero)
Pelabuhan Makassar

DERMAGA II
Nama : Dermaga 101 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 330 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 3.630 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

DERMAGA III
Nama : Dermaga 102 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 230 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 2.530 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

DERMAGA IV
Nama : Dermaga 103 Pangkalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 290 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 3.190 T/M2
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : Pelindo IV

DERMAGA V
Nama : Dermaga 104 Pangakalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 180 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 1.980 M²
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : Pelindo IV
Pelabuhan Makassar

DERMAGA VI
Nama : Dermaga 105 Pangakalan Soekarno
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 180 M'
Lebar : 11 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 1.980 M²
Tahun Pembuatan : 1917
Pemilik : Pelindo IV

B PANGKALAN HATTA
DERMAGA V
Nama : Dermaga Container
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 850 M'
Lebar : 30 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Caison & lantai beton
Kapasitas : 25.500 M²
Tahun Pembuatan : 1997
Pemilik : Pelindo IV

DERMAGA VI
Nama : Pangkalan Hasanuddin
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum
Panjang : 210 M'
Lebar : 15 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : PC Block
Kapasitas : 3.150 M²
Tahun Pembuatan : 1997
Pemilik : Pelindo IV
Pelabuhan Makassar

C KAWASANA PAOTERE
DERMAGA I


Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 100 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 1.000 M²
Tahun Pembuatan : 1980
Pemilik : Pelindo IV


DERMAGA II
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 52,36 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 523,60 M²
Tahun Pembuatan : 1981
Pemilik : Pelindo IV


DERMAGA III
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum(Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 52 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 520 M²
Tahun Pembuatan : 1986
Pemilik : Pelindo IV
Pelabuhan Makassar









DERMAGA IV
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum(KapalRakyat/kayu)
Panjang : 52 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 520 M²
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo IV


DERMAGA V
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 33,5 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 335 M²
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo IV



DERMAGA VI
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 33,5 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 335 M²
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo IV


DERMAGA VII
Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 33,33 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 333,33 M²
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo IV
Pelabuhan Makassar



DERMAGA VIII

Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 33,33 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 333,33 M²
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo IV


DERMAGA IX

Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 52,36 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 523,60 M²
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo IV



DERMAGA X

Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 33,5 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 335 M²
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo IV




DERMAGA XI

Nama : Dermaga Paotere
Fungsi / Kegunaan : Dermaga Umum (Kapal Rakyat/kayu)
Panjang : 50 M'
Lebar : 10 M'
Kedalaman : 12 M
Konstruksi : Tiang Pancang, beton & lantai beton
Kapasitas : 500 M²
Tahun Pembuatan : 1995
Pemilik : Pelindo IV
Pelabuhan Makassar


PINGGIRAN TALUD
Panjang : 1.581 M'
Pembuatan tahun : 1921
:

ALUR PELAYARAN
Panjang : 2,5 mil
Lebar : 150 Meter
Kedalaman : 10 M
Pasang tertinggi : 1,8 M LWS
Pasang terendah : 0,9 M LWS


:KOLAM PELABUHAN
Luas : 315,20 Ha
Kedalaman : 9,7 M
Pasang tertinggi : 1,8 M LWS
Pasang terendah : 0,9 M LWS


GUDANG 101: Soekarno
Luas : 3.800 M2
Kapasitas : 2.280 T/M2
Tahun Pembuatan : 1990
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 75%





GUDANG 102: Soekarno
Luas : 3.800 M2
Kapasitas : 2.280 T/M2
Tahun Pembuatan : 1989
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 75%


GUDANG 103: Soekarno
Luas : 4.000 M2
Kapasitas : 2.400 T/M2
Tahun Pembuatan : 1985
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 70%
Pelabuhan Makassar


GUDANG 104: Soekarno
Luas : 3.800 M2
Kapasitas : 2.280 T/M2
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 75%


GUDANG 105: Soekarno
Luas : 3.800 M2
Kapasitas : 2.280 T/M2
Tahun Pembuatan : 1992
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 75%


GUDANG CFS: Soekarno
Luas : 4.000 M2
Kapasitas : 2.400 T/M2
Tahun Pembuatan : 1994
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 90%

GUDANG API: Soekarno
Luas : 600 M2
Kapasitas : 360 T/M2
Tahun Pembuatan : 1980
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Beton, ddg Tembok,
rangka baja & Atap Aluminium
Kondisi : 60%
Pelabuhan Makassar




LAPANGAN PENUMPUKAN LOKASI SOEKARNO
LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex Gudang 100)
Luas : 1.254 M2
Kapasitas : 752 T/M2
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %

LAPANGAN PENUMPUKAN 101

Luas : 1.213 M2
Kapasitas : 728 T/M2
Tahun Pembuatan : 1990
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 50 %

LAPANGAN PENUMPUKAN 102

Luas : 1.930 M2
Kapasitas : 1.158 T/M2
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %

LAPANGAN PENUMPUKAN 103

Luas : 3.374 M2
Kapasitas : 2.024 T/M2
Tahun Pembuatan : 1984
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %

LAPANGAN PENUMPUKAN 104
Luas : 1.017 M2
Kapasitas : 610 T/M2
Tahun Pembuatan : 1992
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %
Pelabuhan Makassar





LAPANGAN PENUMPUKAN 105

Luas : 1.216 M2
Kapasitas : 730 T/M2
Tahun Pembuatan : 1992
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %

LAPANGAN PENUMPUKAN 106

Luas : 925 M2
Kapasitas : 555 T/M2
Tahun Pembuatan : 1992
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix
Kondisi : 60 %

LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex Containe Yard)

Luas : 21.937 M2
Kapasitas : 13.162 T/M2
Tahun Pembuatan : 1985 & 1992
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal Hotmix & Paving Block
Kondisi : 60 %




LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex Empty container)

Luas : 3.347 M2
Kapasitas : 2.008 T/M2
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Paving Block
Kondisi : 80 %

LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex Kaporlap)

Luas : 8.001 M²
Kapasitas : 4.801 T/M2
Tahun Pembuatan : 1995
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Paving Block
Kondisi : 80 %
Pelabuhan Makassar



LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex PUSRI )

Luas : 8.417 M2
Kapasitas : 5.050 T/M2
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Tanah

LAPANGAN PENUMPUKAN (Ex GUDANG IMCO)

Luas : 2.800 M2
Kapasitas : 1.680 T/M2
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Tanah

B LAPANGAN PENUMPUKAN LOKASI HATTA
LAPANGAN PENUMPUKAN petikemas

Luas : 75.000 M2
Kapasitas : 45.000 T/M2
Tahun Pembuatan : 1997
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Paving Block
Kondisi : 60 %

Lap. Pnmpkan ( EX gedung PUSRI )


LAPANGAN PENUMPUKAN MULTI PURPOSE I

Luas : 17.000 M2
Kapasitas : 10.200T/M2
Tahun Pembuatan : 1997
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Paving Block
Kondisi : 60 %

LAP.PNMPUKAN MULTI PURPOSE II
Luas : 22.446 M²
Kapasitas : 13.468 T/M2
Tahun Pembuatan : 1997
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Paving Block
Kondisi : 60 %
Pelabuhan Makassar


LAPANGAN PENUMPUKAN LOKASI PAOTERE
LAPANGAN PENUMPUKAN I
Luas : 1.801 M2
Kapasitas : 1.081 T/M2
Tahun Pembuatan : 1986
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal
Kondisi : 60 %

LAP.PNMPUKAN II
Luas : 1.974 M2
Kapasitas : 1.184 T/M2
Tahun Pembuatan : 1991
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal
Kondisi : 60 %

LAP.PNUMPUKAN III
Luas : 4.187 M2
Kapasitas : 2.512 T/M2
Tahun Pembuatan : 1990
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Aspal
Kondisi : 60 %



TERMINAL PENUMPANG
Luas : 4.000 M2
Kapasitas : 1.600 orang
Tahun Pembuatan : 1981
Pemilik : Pelindo
Kontruksi : Lantai Keramik, Dinding tembok/Triplek,
Atap Aluminium
Kondisi : 60%

GEDUNG KANTOR
Luas : 2.171 M2
Tahun Pembuatan : 1986
Pemilik : Pelindo
Konstruksi : Lantai Keramik, Dinding Beton
& Atap Beton
Kondisi : 60%
Pelabuhan Makassar


RUMAH DINAS
Jumlah : 73 unit
Luas : 6.623,84 M2
Tahun Pembuatan : 1950,1975
Pemilik : Pelindo IV
Konstruksi : Lantai Terasso, dinding batu bata, atap seng
Kondisi : 40, 60 dan 80 %

MASTER PLAN PELABUHAN
Ada
Perairan :2.978 Ha
Daratan :1.192.933 M2 (dikuasai)
Perairan :39.740 Ha
SK KM 85 Tahun 1999, Tanggal 13/10/1999

JALAN MASUK PELABUHAN
a. Jalan dari/ke sentra-sentra industri/perdagangan
Kelas Jalan : Tol Reformasi
Lapisan Permukaan : Aspal
b. Jalan yang berada di lokasi pelabuhan
Kelas Jalan : Utama Akses ke jalan Tol Reformasi
Lapisan Permukaan : Aspal

LISTRIK
PLN : 993 kW

AIR
PAM : 175 T/jam



PERALATAN BONGKAR MUAT
Crane 40 ton, 25 ton, 5 ton & 3 ton masing-masing 1 Unit
Container Crane 2 Unit;
Transtainer;
Reach stacker;
Top Laoder;
Forklift;
Head truck;
Chasis;
Reefer.






















LAIN-LAIN
a. Instansi Terkait
NAMA INSTANSI ket
Administrator Pelabuhan Makassar aAdm Lalu Lintas Laut
Bea & Cukai Legalisasi
Karantina pertanian & hewan
Kesehatan Pelabuhan
KPPP

b. Perusahaan Bongkar Muat

Nama PBM
PT. Sarana Bandar Nasional
PT. Dharma Lautan Utama
PT. Jasa Makassar Mandiri
PT. Adhiguna Putra
PT. Bandar Makassar


c. Perusahaan Pelayaran

Nama instansi
PT. Pelni
PT. Djakarta Lloyd
PT. Meratus
PT. Kalla Lines
PT. L.S.P


d. Data Potensi Hinterland

No Jenis Potensi Keterangan
Kawasan Industri Makassar 12 KM dari Pelabuhan
Zona Kawasan Berikat 12 KM dari Pelabuhan
Pusat Pengolahan Kayu Sungai Tallo
Cargo Terminal & Pergudangan kota 5 Km dari Pelabuhan



Lengkapnya oM ...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS